sumber :www.silatindonesia.com
mau tahu tentang IPSI gan... ini infonya
IPSI, hari ini,63 Tahun yang lalu
18 Mei 2011, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) genap berusia 63 tahun.
Seperti apa perkembangan IPSI dari dulu hingga kini ?
saya coba copy-pastekan tulisan dari Pak Suprapto di sahabat silat .com
1. Beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan, akibat agresi belanda,
resminya sejak 4 Januari 1946 sampai 27 Desember 1949, Pemerintah RI
mengungsi ke Yogyakarta dan Bukittinggi. Sementara Jakarta dan
Bandung/Jabar diduduki Belanda. (diduga menjadi faktor kesulitan,
mengapa tidak banyak tokoh silat Jabar yg ikut deklarasi pendirian IPSI
dan Kongres I IPSI). Pasukan Siliwangi menjadi kekuatan utama Pemerintah
RI di Yogyakarta.
2. Para tokoh pencak silat (pencak, istilah umum dipakai di
Jateng-Jatim, silat/silek, istilah yg biasa dipakai di Sumbar, digabung
menjadi kata majemuk ‘pencak silat’), memprakarsai terbentuknya Panitia
Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPPPSI).
Pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta, para tokoh pencak silat melalui
PPPPSI, mendeklarasikan berdirinya IPSI, dan menunjuk Mr. Wongsonegoro
sebagai Ketua Umum. Konggres I IPSI yang tidak lama diselenggarakan
setelah deklarasi, mengukuhkan Mr.Wongsonegoro sebagai Ketua Umum PB
IPSI, yang bekedudukan di ibukota RI saat itu, Yogyakarta.
3. Menyesuaikan kembalinya pusat Pemerintahan RI ke Jakarta pada
1950, PB IPSI ikut pindah dari Yogyakarta ke Jakarta (sebagian
personil).
4. Selain mempersatukan kekuatan pejuang persilatan, IPSI juga
memandang perjuangan melalui olahraga dan pendidikan pencak silat,
mempunyai peran besar dalam mempersatukan dan meningkatkan harkat dan
harga diri bangsa.
5. Dipicu pemberontakan DI/TII SM Kartosoewiryo, maka Panglima
Territorium III, Kolonel RA Kosasih (terakhir Let Jend TNI), dibantu
kolonel Hidayat dan kolonel Harun membentuk PPSI (Persatuan Pencak Silat
Indonesia). Membangun kekuatan teritorial masyarakat melalui pembinaan
dengan titik berat pada seni pertunjukan tradisional Ibing Penca dan
beladiri pencak silat, guna melawan DI/TII yang beroperasi di Jawa
Tengah bagian barat, Jawa Barat, Jakarta, sampai Lampung.
Belakangan, terjadi dualisme pembinaan pencak silat di Jabar dan Jakarta. Masing masing, IPSI,
PPSI dan BAPENSI, bersaing masuk acara PON.
6. Dari catatan sejarah perjuangan olahraga/induk olahraga:
a. 1950, ada
KOI (pimpinan Sultan HB IX) dan
PORI (pimpinan Widodo Sosrodiningrat).
b. 1951, PORI melebur ke KOI.
c. 1960, menjadi
KOGOR (Komando/komite Gerakan Olah Raga).
d. 1962, dibentuk Departemen Olah Raga/
DEPORA, dengan Menteri Maladi.
e. 1964, menjelang Asian Games IV, menjadi
DORI (Dewan Olah Raga Indonesia) dipimpin ex officio oleh Presiden Soekarno dan Menteri Olah Raga, Maladi.
f. 25 Desember 1965, IPSI ikut mendirikan Sekretariat Bersama Top
Organisasi Cabang Olah Raga. Yang kemudian mengusulkan mengganti DORI
menjadi KONI.
g. 31 Desember 1966, IPSI ikut menjadi pendiri KONI, organisasi independen non politik, dengan Ketum Sri Sultan HB IX.
7. Pada era 1960 an,
PB IPSI membentuk laboratorium pencak silat, untuk menyusun aturan baku yang memenuhi kriteria pertandingan olahraga.
Para laboran adalah bp. Arnowo Adjie dari Kelatnas Perisai Diri,
Januarno dan Imam Suyitno dari PSHT, bp. Hadimulyo, Dr. Rachmadi dan Dr.
Djoko Waspodo dari KPS Nusantara.
Hasil laboratorium ini mulai di ujicoba pada th 1969. Dipertandingkan pertamakali pada PON VIII th 1973 di Jakarta.
8. Menjelang Konggres IV IPSI 1973, dicari calon Ketua Umum PB IPSI untuk menggantikan Mr. Wongsonegoro yang sudah sepuh.
Didapatlah seorang kandidat, yaitu Gubernur DKI Jakarta, Brigjen TNI
Tjokropranolo (terakhir berpangkat Let Jend). Diselenggarakan
seminar2/diskusi dengan berbagai pihak di Tugu, Bogor, untuk langkah2
pembinaan kedepan. Antara lain dirumuskan aspek2 dalam pencak silat,
yaitu
Seni, Beladiri, Olahraga dan Kebatinan/Spiritual, sebagai jalur pembinaan lengkap.
Bp Tjokropranolo/bang Nolly, yang memiliki garis keturunan dari pendekar
pencak Jawa, Gagak Handoko, dibantu sepenuhnya oleh tokoh2 perguruan:
a.
Tapak Suci : bp Haryadi Mawardi, bp Tanamas.
b.
KPS Nusantara : bp Hadimulyo, Sumarnohadi, Dr.Rachmadi, Dr. Djoko Waspodo.
c.
Kelatnas Perisai Diri : bp Arnowo Adjie HK.
d.
Pashadja Mataram: bp KRT Soetardjonegoro.
e.
PerPI Harimurti: bp. Sukowinadi.
f.
Perisai Putih: bp Maramis, bp Runtu, Sutedjo dan Himantoro.
g.
Putra Betawi: bp. H.Saali.
h.
Persaudaraan Setia Hati/PSH: Mariyun Sudirohadiprodjo, Mashadi, Harsoyo, HM Zain.
i.
Persaudaraan Setia Hati Terate/PSHT: bp Januarno, Imam Suyitno, Laksma Pamuji.
Menyusun rancangan, langkah strategis untuk mengembangkan pencak silat kedepan.
9. Kebetulan bang Nolly dan para pendiri PPSI adalah satu korps,
Corps Polisi Militer/CPM. Pembicaraan untuk mempersatukan menjadi lebih
lancar. Dimulai dengan Sekretariat Bersama IPSI-PPSI di Stadion Utama
Senayan, dilanjutkan dengan pernyataan yang disampaikan Ketua Harian
PPSI, bp. H.SUHARI SAPARI di Konggres IV IPSI 1973, bahwa PPSI
bergabung di IPSI, seluruh anggota PPSI otomatis menjadi anggota IPSI.
Konggres juga menetapkan Tjokropranolo sebagai Ketua Umum PB IPSI menggantikan Mr Wongsonegoro.
10. Oleh Tjokropranolo/ PB IPSI, maka PPSI dan 9 perguruan tersebut,
atas peran jasanya dalam “era baru” IPSI, ditetapkan sebagai perguruan
tingkat pusat, dengan hak istimewa, dibebaskan dari syarat umum untuk
menjadi anggota tingkat pusat.
Dimasa bp Eddie M Nalapraya, kemudian disebut sebagai perguruan historis IPSI.
11. Atas saran presiden, untuk mengenalkan pendidikan pencaksilat di
sekolah2, agar dimulai dengan olahraga rekreasi/kesehatan massal, dengan
menyusun SPI (senam pagi Indonesia), dengan memasukkan unsur2 gerakan
pencak silat.
Adapun kurikulum pelajaran pencak silat di sekolah, dengan penyusun bp
Mariyun cs, kurang diterima perguruan2 didaerah. Dilain pihak perguruan2
juga belum berhasil menyusun silabus kurikulum sendiri. Sehingga
program kurikulum pencak silat di sekolah menjadi kandas. Kedepan hanya
bisa dilaksanakan dengan berbasis perguruan.
12. Bang Nolly mulai merintis diplomasi untuk mendirikan PERSILAT.
Mendorong terbentuknya Pengda dan Pengcab IPSI diseluruh Indonesia.
13. Berganti kemasa bp Eddie M Nalapraya. Aspek2 lengkap mulai
dikembangkan. Ada workshop2 untuk pengembangan pencak silat seni dll.
Didukung pendanaan yang powerfull dari Bambang Tri, Prabowo Subianto,
Rossano Barack dan terakhir Rachmat Gobel.
14. Pada Konggres/MUNAS XII IPSI 2007, ditetapkan lima perguruan yang
memenuhi syarat menjadi anggota tingkat pusat kategori biasa, yaitu,
Persinas ASAD, Kalimasada, PSTD Indonesia, Satria Muda Indonesi dan
Betako Merpati Putih.
Demikian.
Dalam tiap tahap tentu ada kisah panjang lebar. Silahkan teman2 melengkapi.
Titik berat konsep pembinaan ala 1973 tentu harus ada penyesuaian dengan
tuntutan jaman. Khususnya bagaimana membina pencak silat tradisional
yang mengakar pada budaya nusantara.
Perlu pembaruan pemikiran dan strategi.
ref:
sahabat silat